Menulislah...Ceritakan Apa Yang Kamu Rasakan

Memutuskan Menikah Mudah di Usia 20 Tahun Tanpa Restu Keluarga




Banyak yang kaget saat Aku membagikan undangan pernikahanku, karena pembahasan masalah pernikahan tak pernah terucap dari mulutku saat sedang berkumpul dengan teman teman sekolah maupun teman di akademi.

Beneran kamu mau menikah ?kok mendadak ? bukan karena kamu hamil duluan kan ? pertanyaan itu wajar saja terucap dari semua pihak baik dari keluarga maupun teman temanku. Namun aku dengan santai menjawab, ini mungkin takdirku, karena waktu kecil aku memang pernah berucap ingin menikah pada usia 20 tahun, dan Tuhan mengabulkannya.

Saat aku berusia 7-10 tahun, aku sering mendengar cerita mamak, bahwa dijaman Beliau, anak perempuan tak wajib bersekolah tinggi, karena ujung ujungnya kedapur juga, apalagi datok dan nenek bukanlah orang berduit, sehingga bisa mengenyam sekolah dasar sampai tamat pun mamakku rasanya sudah bersukur sekali, namun sayang, mamak hanya sampai kelas 5 sekolah dasar, kemudian berhenti, dan melanjutkan menolong datok dan nenek keladang saja. 

Dan diusia 14 tahun mamak sudah dilamar oleh keluarga Bapak, mereka dijodohkan dan bertemu saat dipelaminan. Tak ada istilah bulan madu bagi mamak, karena setelah menikah, mamak memang langsung menjalankan perannya sebagai istri, dapur, kasur, sumur, namun mamak tidak menyesali semuanya, baginya itulah takdirnya.  Nah dari seringnya cerita ini aku dengar, aku pun berfikir dalam hati dan menghitung hitung sendiri, jika Sekolah Dasar 6 tahun, artinya usiaku 12 tahun, ditambah SMP 3 tahun dan SMA 3 tahun, artinya umur ku masih 18 tahun. Kalo begitu pas dong usiaku 20 tahun aku menikah, setidaknya aku sudah tamat sekolah, begitu lah pemikiranku saat masih kecil, pemikiran polos namun ternyata di catat malaikat dan didengar oleh Tuhan.

Aku mengenal si Abang dari adiknya yang ternyata satu sekolah denganku, meski kami tidak satu kelas. si Abang sering melihat aku menitipkan motor disamping rumahnya, kebetulan rumah temanku persis dibelakang rumahnya. Suatu hari ia sengaja mengambil busi motorku dan itu membuat motorku tak bisa hidup, kemudian dia sok sok jadi pahlawan kesiangan yang berusaha membantu dan menghidupkannya, aku yang memang tak mengerti tentang motor, ya akhirnya berbahagia dengan bantuannya.

Perkenalan kami tak berhenti disitu, Sebuah boneka kuterima dari adiknya yang diantar langsung kerumahku, katanya dari abangnya. Jujur aku senang, ya senang saja tidak lebih. Aku tidak tertarik sama abangnya, karena abangnya terlihat tua, dan bukan tipe ku juga.

Hari hari berlalu, kebaikan si Abang ternyata semakin banyak aku terima, dan dia sangat pandai mengambil hati keluargaku. Sehingga dari keluarga dan teman temanku aku disarankan untuk belajar menerimanya.

Singkat cerita, si Abang makin gencar kerumah, dan akhirnya aku bisa juga menerima sebagai pacarku. Namun ketika aku ingin dikenalkan sebagai pacarnya dirumah keluarganya, ternyata aku tidak diterima dengan baik oleh Ibunya, sikap dingin Ibu membuat ku merasakan bahwa memang aku tidak disukai, kalo anggota keluarga yang lain biasa saja.

Si Abang sering menghiburku dan meyakinkan aku bahwa semua akan baik baik saja, Ibu orangnya tak seperti yang aku bayangkan, begitulah kata kata yang selalu Abang ucapkan padaku, karena setelah kejadian itu aku sedikit malas melanjutkan hubungan.

Aku sendiri sudah menjadi anak piatu sejak berusia 14 tahun atau kelas 2 SMP, masak ketika aku memiliki pacar, aku tak bisa juga merasakan hangatnya dan nyamannya memiliki seorang Ibu ? dan ketidaknyamanan aku ini aku sampaikan kepada si Abang.

Masalah ternyata tak semudah yang kami bayangkan, ketika kami nekat tetap bersama, sang Ibu malah semakin marah, dan itu membuat  si Abang memilih keluar rumah demi mempertahankan aku, karena sang Ibu tak kunjung memberi restunya.

Abang memilih kost, dan itu membuat aku merasa bersalah, berkali kali aku minta putus, karena aku tak mau memisahkan Ibu dan anak, tetapi Abang tetap ngotot untuk bertahan, dan berjanji semua akan baik baik saja, asal aku mau bersabar dengan sikap Ibu.

3Tahun berlalu, kami masih saja tidak mendapat restu, di usir , dimarahi, dan dikata katain dengan kata yang tak pantas membuatku merasa begitu sedih, kenapa begitu sulit hubungan ini ? apa salahku ? apa aku tak pantas mendapat kasih sayang seorang Ibu ? hal ini membuatku frustasi dan akhirnya aku selalu meminta putus dari Abang karena tidak tahan.

Namun lagi lagi Abang memintaku bersabar, dan Abang mengajakku menikah, mungkin dengan menikah dan punya anak, hati Ibu akan luluh ketika melihat cucunya. Sedikit kaget mendengar ajakan Abang untuk menikah, mengingat aku masih kuliah dan aku belum siap. Namun Abang meyakinkan aku bahwa inilah jalan satu satunya yang terbaik agar kami tak bisa dipisahkan.

Ntah kenapa aku menyetujui saja rencana Abang untuk menikah, dan menemani Abang menemui Bapak dan bibik ku untuk membicarakan masalah pernikahan kami. Awalnya semua kaget kenapa mendadak, apa aku hamil ? Abang dengan tersenyum menjelaskan bahwa Anak Bapak tidak hamil pak, Saya merasa sanggup bertanggung jawab atas anak Bapak. Begitulah Abang menyakinkan keluargaku. Dan akhirnya keluarga juga menyerahkan keputusan semua ditangan kami berdua.

Jadilah 3 bulan waktu kami mempersiapkan pesta pernikahan yang sederhana, tanpa restu dari Ibu.

====================Bersambung==============



2 komentar:

  1. awal perkenalan yang lucu... semoga hati ibu segera luluh dan merestui..

    BalasHapus
  2. aamiin aamiin aamiin mbak :)

    BalasHapus

My Instagram